Senin, 30 Maret 2015

Makalah Laporan Penelitian



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhir, baik pada starata satu (S1) maupun pascasarjana (S2), diwajibkan menyelesaikan satu tugas akademik, yaitu menulis karya ilmiah. Di S1 hasil karya ilmiah di sebut skripsi dan pada pascasarjana di sebut tesis. Skripsi dan tesis tersebut diangkat dari hasil karya ilmiah berbentuk penelitian. Berkaitan dengan ini sebelum mahasiswa melakukan penelitian diwajibkan mengajukan Usulan Penelitian atau Research Propsal/ Project Statement.
            Penelitian dapat pula diartikan sebagai pengamatan yang mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan. Penelitian adalah merupakan proses ilmiah yang mencakup sifat formal dan instensif, karakter formal dan intensif karena terikat aturan, urutan  maupun cara penyajian agar memperoleh hasil yang bermanfaat bagi manusia, intensif dengan menerapkan ketelitian, dan ketepatan dalam melakukan proses agar memperoleh hasil yang dipertanggungjawabkan, memecahkan problem melalui hubungan sebab akibat.
            Penulisan makalah ini bertujuan untuk memaparkan metodelogi laporan penelitian yang baik dan benar. Laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitan (Bahdin : 7).


B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian laporan penelitian ?
2. Apa tujuan penulisan laporan penelitian ?
3. Apa manfaat laporan penelitian ?
4. Bagaimana sistematika penulisan laporan penelitian yang benar ?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui apa pengertian dari laporan penelitian.
2. Untuk mengetahui tujuan penulisan laporan penelitian.
3. Untuk mengetahui manfaat penulisan laporan penelitian.
4. Untuk mengetahui sistematika penulisan laporan penelitian yang benar.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Laporan Penelitian
            Laporan penelitian dalam bahasa Inggris report berasal dari bahasa Latin portare yang berarti membawa, menyangkut, menyampaikan. Penelitian menurut Kerlinger ialah proses menemuan yang mempunyai karakteristik sistematik dan terkontrol, empiris dan berdasarkan pada tiori dan hipotesis atau jawaban sementara. Menurut Bahdin (35:2005) laporan penelitian adalah karya tulis yang berisi paparan tentang proses dan hasil-hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitan
            Kesimpulan yang dapat di ambil dari beberapa pengertian menurut para ahli yaitu, laporan penelitian adalah kerja akhir dari suatu proses panjang atau pendek dari suatu penelitian atau tahapan penelitian tertentu yang merupakan deskripsi sementara ataupun terakhir yang disusulah  secara sistematis, obyektif, ilmiah, dan dilaksanakan tepat pada waktunya. Laporan penelitian menjadi semakin penting setelah dijadikan peninggalan tertulis dari suatu penelitian yang telah dilaksanakan.




B. Tujuan Laporan Penelitian
1. Untuk mengenal pasti masalah
            Dalam penulisan laporan penelitian yang dibuat harus bisa membuat pembaca ataupun penulis benar-benar mengenali bahan yang dibahas.
2. Mencanangkan penyelesaian
            Dalam setiap laporan penelitian biasanya disugukan dengan masalah dan tentunya membutuhkan solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Penyelesaian yang di canangkan harus tepat sehingga tujuan yang ingin disampaikan dapat tercapai.
3.Mencanangkan tindakan yang perlu dilakukan
            Dalam hal ini penulis hendaknya mencantumkan beberapa tindakan yang perlukan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada sehingga ada kejelasan berupa fakta bukan hanya opini semata.
4. Membuat kesimpulan
            Kesimpulan merupakan inti dari penelitian yang sudah di buat oleh penulis. Kesimpulan memegang peranan penting agar pembaca dapat memahami keseluruhan dari isi laporan yang di buat serta tujuan dan juga manfaatanya.

C. Manfaat Laporan Penelitian
1. Menyampaikan informasi (presentation of information).
            Tujuan dari penulisan laporan adalah untuk menyampaikan informasi seputar penelitian yang sudah dibuat oleh penulis. Informasi-informasi yang disampaikan tentunya diharapkan dapat berguna bagi masyarakat.
2. Komunikasi tertulis untuk menyampaikan suatu maksud kepada pihak yang disarankan.
            Seperti yang kita ketahui bahwa laporan penelitian merupakan komunikasi tertulis dimana ide penelitian disampaikan oleh penulis lewat media tulis. Keguanaannya adalah untuk mempermudah komunikasi sehingga mengurangi pertemuan tatap muka, media tulisan yang dipilih sudah bisa mewakili apa yang ingin disampaikan oleh penulis.
3. Dokumen yang memberikan maklumat, laporan, ide kepada pembaca tentang suatu hal.
            Laporan penelitian adalah sebuah dokumen sah yang memuat suatu ide untuk disampaikan kepada penulis.

D. Sistematika Penulisan Laporan Penelitian
            Laporan penelitian adalah bagian dari karya ilmiah oleh karena itu penulisan nya harus sesuai dengan kode etik penulisan karya ilmiah. Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu di perhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perujukan, perizinan terhadap bahan yang di gunakan, dan penyebutan sumber data atau informan.
            Suatu laporan penelitian umumnya dibagi dalam  6 (enam) bab. Sebelum bab-bab laporan, ada bagian pendahuluan yang memberikan gambaran umum mengenai laporan. Bagian laporan penelitian pada umumnya terdiri dari beberapa halaman yang berisi:
1.   Halaman judul
            a. Judul haruslah singkat, spesifik, dan jelas.
            b. Judul harus menarik perhatian pembaca ketika di baca sepintas.
            c. Judul sebaiknya menggambarkan cakupan dan isi yang sedang di teliti.
2.       Halaman persetujuan
            Halaman persetujuan merupakan halaman yang berisi persetujuan dari pembimbing penelitian terhadap proses, hasil dan laporan penelitian siswa atau mahasiswa.
3.       Halaman pengesahan dari rektor atau  pusat penelitian
            Tanda pengesahan promotor yang menyatakan bahwa laporan sudah sah.
4.    Abstrak
            a. Merupakan ringkasan hasil penelitian yang lengkap.
            b. Mencangkup permasalahan (latar belakang), metode, dan hasil penelitian.
            c.Tabel dan grafik tidak boleh dicantumkan dalam abstrak.


5.     Kata pengantar
            Kata pengantar berisi pernyataan ringkas tentang masalah tujuan, lembaga yang mensponsori peneliatian, dan sebagainya. Pengantar dapat ditulis oleh orang yang memimpin atau oleh lembaga penelitian atau oleh  seseorang  yang mewakili lembaga yang mensponsori penelitian.
6.       Daftar isi
            Daftar isi bertujuan agar pembaca dapat mengenali bagian-bagian laporan dan mereka dapat melihat hubungann antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.
7.      Daftar tabel
8.        Daftar gambar atau grafik (jika ada)
            Menurut Mahsun (2005:126) sistematika penulisan laporan yang terdiri dari enam bab adalah sebagai berikut.
1)      Bab I  (Pendahuluan)
Pendahuluan Berisi hal-hal yang dapat memperkenalkan secara ringkas kepada pembaca tentang masalah penelitian, ruang lingkupnya, keguanaan teoritis, serta praktisnya, tinjauan pustaka dan kerangka teori, serta metode peneliatian . ikhwal bagaimana membuat rumusan masalah, tinjauan masalah, kerangka teori, dan penentuan metode penelia, pada uraian bab II.

2)      Bab II  (Metodologi Penelitian)
Hal serupa dijelaskan  metode penelitian pada dasarnya adalah suatu prosedur kerja yang sistematis, teratur, dan tertib yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk memecahkan suatu masalah (penelitian) guna mendapatkan kebenaran yang objektif.




3)      Bab III  (Hasil Penelitian dan Pembahasan)
Pada bagian ini  dikemukakan hasil serta analisis data yang diperoleh pada tahap penyedian data sehingga diperoleh rumusan kaidah yang mengetur gejala kebahasaan yang menjadi obyek penelitian.

4)      Bab IV  (Kesimpulan dan Saran)
Kesimpulan harus perkataan singkat dan tepat yang dijabarkan dari hasil penelitian dan pembahasan. Dalam kesimpulan ini akan terjamin akan tercermin jawaban darai masalah yang diajukan dalam penelitian dan sekaligus mencerminkan apa yang menjadi isi pada bagian hasil dan pembahasan.
Saran dirumuskan berdasarkan pengalaman dan pertimbangan pebulis yang ditunjukan pada peneliti yang sebidang yang hendak melanjutkan penelitian yang serupa ataumengembangkan penelitian yang jtelah dilakukan.

5)      Bab V(Daftar Pustaka)
Semua dokumen, baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan, yang digubakan  pada laporan kita semuanya dicantumkan sebagai bdaftra kepustakaan yang ditempatkan dibagian akhir lapoaran.

6)      Bab VI (Lapiaran – lampiran)
Lampiran biasanya berisi hal-hal teknis yang akan tampak tidak praktis kalau dimaksukkan kedalam teks laporan atau akan tidak pantas karena akan mengganggu kelancaran penyajian laporan .






BAB III
PENUTUP
            Pengertian dasar laporan ialah menyajikan fakta secara objektif dan jelas. Peranan Laporan sebagai media komunikasi yang baik. Fungsi laporan penelitian untuk keperluan studi akademis, pengembangan ilmu pengetahuan, keperluan lembaga masyarakat, lembaga pemerintahan, atau lembaga bisnis tertentu.
            Laporan penelitian biasanya terdiri dari lima atau enam bab yang berisi diataranya pendahuluan, metodelogi penelitian, hasil penelitian dan pembahasan, kesimpulan dan saran, daftar pustaka, dan lampiran-lampiran.










DAFTAR PUSTAKA
Mahsun. 2005.  penelitian bahasa: tahapan strategi, metode, dan tekniknya. Jakarta: PT Grafindo Persadan.
Tanjung, Bahdin Nur dan Ardial. 2005. Pedoman Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: KENCANA
https://www.academia.edu/6123896/TEKNIK_MENULIS_LAPORAN_PENELITIAN_KARYA_ILMIAH

Kamis, 12 Maret 2015

cerpen " Mbah Lasih "



          Sebut saja namanya mbah Lasih. Tubuhnya renta, untuk berdiripun harus ditopang oleh tongkat kaju berbentuk huruf  J terbalik. Mbah Lasih sudah berumur delapan puluh sembilan tahun. Beliau tinggal di gubuk tua peninggalan mendiang suaminya. Gubuk itu penuh dengan tambalan kulit kayu,beralaskan tanah merah khas daerah perbukitan. Saat hujan turun mbah Lasih selalu duduk di sudut gubuk untuk berteduh,maklum hampir seluruh bagian gubuk bocor. Sehari-hari mbah Lasih hanya bekerja di kebun sayur milik tetangganya. Karena sudah tua tenaganya pun tidak sebanding dengan pekerja yang masih muda sehingga mbah Lasih harus ikhlas dengan upah yang  juga hanya setengah. Selain itu mbah Lasih juga menggantung hidupnya dengan membuka jasa pijit. Seiring dengan kemajuan zaman,jasa pijit mbah Lasih pun semakin sepi.
          Sebenarnya mbah Lasih punya seorang anak lelaki yang bernama Nurman. Namun Nurman sudah berkeluarga,hidup di kampung sebelah bersama istri dan dua orang anaknya. Selain tidak ingin membebani anaknya, mbah Lasih sangat takut kepada Yumi, istri Nurman.
          Hujan turun lagi. Memberikan energi baru kepada setiap nafas yang hidup di tanah. Daun-daun menari mengikuti arah angin, menyambut turunnya rintik-rintik air penuh suka cita. Mabh Lasih, seperti biasa duduk di pojokan rumah menatap atap-atap gubuk yang sama renta dengan dirinya. Barisan rayap memenuhi tiang penyangga rumahnya, mbah Lasih menggelengkan pelan kepalanya.
          “ Aku harus bicara pada Nurman siapa tahu dia bisa meluangkan sedikit waktunya untuk memperbaiki atap gubuk ini dan mengganti tiang penyangga. Akhir-akhir ini hujan turun sangat deras, anginnya kencang pula, bisa-bisa aku mati tertimpa reruntuhan gubuk!”
          Setelah bicara seperti itu tiba-tiba saja mbah Lasih menangis. Air matanya tak jauh lebih deras dari hujan di luar sana. Perlahan ia menyeka air mata itu dengan ujung jemari yang tinggal tulang berbalut kulit renta. Sudut matanya kini terbingkai kerutan-kerutan penua. Bibirnya bergetar.
          “ Ohh Nurman, semoga sikap Yumi selalu baik kepada mu, cukup ibu saja yang sering dimaki nya…”
          Ibarat bioskop ,mata mbah Lasih yang gelap kini memutar kenangan buruk yang ditorehkan oleh menantu satu-satunya itu.
          Yumi dipersunting oleh Nurman atas kehendak mbah Lasih sendiri. Mbah Lasih mengenal Yumi di kebun sayur, mereka sama-sama pekerja waktu itu. Dulu Yumi sangat baik kepada mbah Lasih, sehabis memetik sayuran mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk sekedar bercerita. Selain itu mbah Lasih juga iba karena ternyata Yumi hidup sebatang kara di dunia ini. Orangtua Yumi sudah lama meninggal akibat kecelakaan di kebun karet. Yumi yang masih kecil tinggal bersama neneknya, namun setelah kepergian neneknya paman dan bibi Yumi malah menjual rumah peninggalan almarhumah. Sejak itulah hidup Yumi hanya di habiskan sebagai buruh pemetik sayur dan tinggal di pabrik pengepakan sayur. Tanpa berfikir panjang lagi mbah Lasih memperkenalkan Yumi kepada anak nya Nurman. Merasa ada kecocokan, akhirnya pesta kecil-kecilan di langsungkan sebagai ucapan selamat atas terbentuknya keluarga baru.
          Lama-kelamaan sikap Yumi berubah kepada mbah Lasih. Yumi sering memarahi mbah Lasih jika ada pekerjaan rumah yang belum selesai. Apalagi saat mbah Lasih makan lebih awal, tak hentihentinya Yumi memaki mertuanya itu.
          “ Kalau sebentar-bentar makan yang capek  aku  Bu. Gaji anakmu hanya cukup untuk makan dua kali sehari. Bisa sih tiga kali, tapi jika tidak ada kamu!”
          Terngiang jelas kata-kata yang sering di ucapkan Yumi. Nurman sebenarnya melarang mbah Lasih untuk bekerja, namun karena gertakan dari menantunya mbah Lasih terpaksa harus bekerja. Akhirnya entah pengaruh apa yang sudah di berikan Yumi, Nurman pamit pindah ke desa sebelah. Alasannya adalah Roby anaknya sebentar lagi akan masuk sekolah. Kampung sebelah lebih dekat. Dengan hati yang teriris akhirnya mbah Lasih merelakan kepergian anak, menantu, dan dua cucunya Robi serta Lisa. Sejak saat itu hanya Nurman saja yang seminggu sekali dating menjenguk Mbah Lasih. Walaupun anaknya hanya datang dengan tangan kosong namun mbah Lasih sangat senang. Namun menantu dan kedua cucunya tidak pernah datang menjenguk mbah Lasih, itu sebabnya mbah Lasih sering sekali menangis saat Nurman pulang. Sebagai seorang nenek tentunya ia sangat rindu kehadiran cucunya. Ia juga rindu harumnya dapur oleh aroma masakan si menantu. Sesungguhnya mbah Lasih tidak minta harta benda atau kedudukan, di usianya yang semakin menua ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak cucunya saja. Namun apa boleh dikata, kelakuan Yumi sama hal nya seperti air susu di balas dengan air tuba. Tak adarasa terimakasih kepada orangtua yang sudah mengangkat hidupnya.
          Pernah mbah Lasih datang kerumah anaknya untuk sekedar bertamu, namun Yumi segera mengusir dengan alasan ingin menghadiri rapat di sekolahan Robi. Kalau bukan rapat, Yumi hanya diam seribu bahasa, tidak ingin menanggapi omongan ibu mertuanya. Sering kali mbah Lasih pulang dengan membawa air mata yang menggenang di pelukup matanya.
          Hujan semakin deras saja, angin pun bertiup kencang. Tiang penyangga rumah mbah Lasih mulai bergoyang.
          “ Astagfirullahhalazim…” ucap mbah Lasih sambil menyeka seluruh airmata yang membasahi pipinya.
          Mbah Lasih langsung bangkit dari tempat duduknya. Atap rumah kini hampir di terbangkan oleh angin. Lantai rumah mbah Lasih mulai becek akibat tetesan air. Tongkat yang selalu menemani tiap langkah kaki mbah Lasih mulai susah di gerkakkan. Berkali-kali tenggelam meninggalkan lobang kecil di lantai tanah.
          “Gusti, semoga Nurman datang kemari, aku takut sekali. Rumah ini seperti ingin menelan ku!”
          Mbah Lasih melangkah pelan-pelan menghampiri tiang penyangga yang terletak di tengah-tengah rumah. Mata redup nya mengamati setiap bagian dari kayu bulat sebesar lengan orang dewasa.
                              
         “ Mendiang suamiku maafkan aku karena tidak bisa menjaga gubuk tercinta cinta ini!”
      
           Tiang rumah dari bambu itu semakin sering bergoyang, akibatnya atap gubuk tidak lagi rapat melainkan sudah sangat berantakan. Bocor semakin banyak, air kini sudah mengenai tubuh mbah Lasih. Tanpa di duga angin datang lagi dan kini semakin kencang. Tiang penyangga roboh, mbah Lasih jatuh tersugkur di timpa reruntuhan atap dan kayu. Pelipisnya berdarah. Kini tubuh tua itu menyatu dengan sang hujan. Raga yang mati mengenaskan. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya. Sampai disinilah hidup orangtua itu. Meninggalakan banyak luka dan kepedihan.
Jasad mbah Lasih dimakamkan tepat di samping makam mendiang suaminya. Nurman yang kini diselimuti kepedihan hanya bisa termangu sambil menatap nisan ibu nya. Tarjo yang mengurus pemakaman mbah Lasih memanggil Nurman untuk datang kerumahnya karena ada yang ingin disampaikan. Nurman menarik nafas panjang, dengan apa ia akan membayar hutang ibunya itu, Yumi pasti akan marah besar.

Langkah gontai tanpa semangat membawa Nurman sampai ke rumah Tarjo. Tarjo ternyata sudah menunggu dari tadi. Setelah duduk berhadapan dengan Tarjo tanpa pikir panjang Nurman langsung berkata,
“ Jo, aku belum bias membayar hutanghutang ibu ku!”
Tarjo menatap Nurman dengan senyuman tipis.
“ Ibu mu tidak punya hutang dengan siapapun Man. Justru aku ingin memberikan uang untukmu. Ini tabungan ibu mu yang aku temukan di dalam tiang bambu yang menimpa tubuh ibu mu. Di sisi bambu itu tertulis tabungan untuk kamu!”

Nurman meraih potongan bambu yang di berikan oleh Tarjo. Didalamnya ada pecahan-pecahan uang yang berjumlah dua juta tujuh ratus ribu rupiah. Air mata Nurman langsung menyeruak. Begitu besar kasih sayang ibunya itu. Seharusnya Nurman yang menyiapkan tabungan untuk ibunya, namun di sela-sela kehidupan yang mencekik malah ibunya yang menyiapkan tabungan untuk nya.

cerpen " Sepotong Jilbab "



Sepotong Jilbab
          Semilir angin mempermaikan ujung jibabku yang tergerai bebas. Ku nikmati suara gemericik aliran air di bawah jembatan Imogiri. Sesekali mata ku menatap layar ponsel yang sedang memanerkan foto ku tanpa jilbab. Begitu cantiknya rambut panjang ku yang tergerai indah sampai ke pinggang. Wajah ku yang mulus tanpa sentuhan make-up menambah kecantikan diri. Namun itu lima bulan yang lalu,sebelum aku menginjakkan kaki di sini,di Yogyakarta. Sebelum aku memutuskan untuk kuliah di Universitas Ahmad Dahlan. Aku adalah gadis muslim,namun tidak mengerti cara berjilbab. Bukan karena pengetahuan agama ku yang rendah,namun kerena lingkungan. Aku dibesarkan di lingkungan yang mengaggap gaul itu ketika mengenakan pakaian ala negeri barat. Terbuka,seksi,baju tanpa lengan,dan celana di atas lutut. Dulu aku bagitu bangga memamerkan kulit putih ku,memperlihatkan lekuk leher jenjang dan betis indah tanpa lecet sedikitpun. Namun itu dulu,sebelum aku mengenal Avi. Ku lihat lagi bayangan diriku di air jernih ini,satu jiwa yang baru. Jiwa yang mengerti apa itu kewajiban perempuan muslimah. Jiwa yang terbentuk dengan sebuah perjuangan batin. Lima bulan yang lalu,dan inilah hasilnya.
            “ Kamu yakin Kiran mau kuliah di UAD?” tanya mama saat aku menelpon.
            “ Yakin Ma,untuk jurusannya,tapi kalau untuk peraturannya aku masih ragu!” jawabku dengan penuh kehati-hatian.
            “ Yasudah,mana baiknya sajalah!”
            Ini adalah hari pertama ku mengikuti ospek di kampus. Aku terpaksa bangun dua jam lebih awal. Setelah mandi dan sarapan aku segera sholat subuh. Memanjatkan doa kepada Allah agar tidak mendapatkan hukuman yang aneh-aneh dari kakak senior. Setelah itu aku langsung membuka lemari,baju kemeja putih dan rok hitam sudah terpajang rapi. Ku lirik gantungan baju paling ujung,sebuah kain segi empat berwarna putih terlipat rapi. Itu adalah jilbab yang harus aku gunakan. Aku menarik nafas panjang,hati ku berbisik pelan. Mampukah aku menggunakannya sampai sore?
            Sudah hampir satu jam aku membolak balik jilbab ini,namun selalu saja tidak pas sudutnya. Aku mulai kesal,darah ku naik sampai ke ubun-ubun. Sial. Benda segi empat ini selalu merepotkan aku.
            “ Hei kain jelek,kau sungguh menyusahkan. Kalau tidak karena tuntutan aku tidak akan memakaimu,menyentuh pun aku tidak mau!” umpatku di depan kaca sambil menyematkan sebuah peniti.
            Jam dinding sudah menujukkan pukul lima,aku langsung menyambar tas karung yang berisi berbagai macam makanan dan minuman. Dengan cepat ku dorong garasi rumah sambil mengumpat lagi. Aku bisa telat akibat ulah jilbab ini. Belum lagi aku harus mencari tempat parkir motor karena mahasiswa baru dilarang membawa kendaraan pribadi. Aturan macam apa itu?  kalau untuk orang asli Jogja, ya gak masalah. Tapi buat ku,anak rantau? Siapa yang mau mengantar? Solusinya naik kendaraan umun. Gila aja mana ada kendaraan umun fajar buta seperti ini. Inilah resiko kuliah di universitas yang kampusnya terpecah belah,satu di barat,satu di utara,satu di selatan,dan entah dimana lagi. Menyesal juga aku kuliah,harusnya sekarang aku sudah memakai seragam pramugari. Berjalan dengan anggun memasuki kabin pesawat. Punya pacar seorang pilot dan bisa menginjakkan kaki di berbagai belahan dunia. Seandainya mama merestui cita-cita ku itu. Ahh…aku sudah tidak berminat lagi berkhayal.
            Saat hampir memasuki jalan Pramuka,aku melihat kakak senior sudah berjaga-jaga di depan XT-Square. Mereka pasti akan menghukum mahasiswa baru yang ketahuan membawa kendaraan pribadi. Aku langsung memutar motor,mencari tempat parkir. Dengan sangat terpaksa aku menitipkan motor di parkiran dadakan masa ospek yang mahalnya minta ampun. Sejak kapan harga parkir melonjak lima ratus persen? Aku baru sadar ini kota. Saat bencana melandapun masih digunakan sebagian orang untuk mencari keuntungan. Mau berbuat apalagi,inilah kota!
            Begitulah seminggu pertama yang aku lewati. Bangun jam tiga fajar,memakai jilbab satu jam,lalu berburu parkiran. Saat pulang sudah hampir Magrib. Hal pertama yang langsung aku lakukan adalah kramas,memanjakan rambutku yang seharian tersiksa oleh scraft jilbab. Menghitung helain rambut yang rontok akibat tidak terkena sinar matahari. sungguh,ini siksaan terberat untukku.
            Aku hanya memakai jilbab saat kuliah,diluar itu aku tetap membanggakan baju tanpa lengan dan celana di atas lutut. Aku rasa bukan cuma aku yang seperti itu,banyak mahasiswi lain yang serupa dengan ku. Tiga bulan pertama kuliah aku hanya punya lima potong jilbab. Bukan karena tidak punya uang untuk membelinya,namun aku lebih senang mengeluarkan uang ku untuk membeli mini dress keluaran baru. Untuk apa repot-repot mengoleksi jilbab,toh aku bukan seorang hijabbers. Aku hanya mengikuti peraturan kampus saja.
            Di kampus aku termasuk orang yang periang dan mudah bergaul,tak heran jika teman ku banyak. Aku bukan tipe orang yang betah berteman dengan cara berkelompok. Aku lebih suka membaur dengan semua orang. Bagiku menemukan karakter orang yang berbeda-beda adalah sesuatu yang menakjubkan. Aku merasa kaya dengan bisa mengetahui bentuk karakter teman-temanku,setidaknya suatu hari nanti aku bisa mengaplikasikannya pada pekerjaan ku.  Apalagi kalau bukan mendidik ratusan bahkan ribuan anak!
            Aku punya ketua kelas yang emosinya tidak stabil dan kurang bisa menyadari diri. Bagaimana tidak,dia selalu ingin mengguyoni orang lain,tapi ketika guyonan nya dibalas dia langsung marah,membalas dengan omongan kasar yang meledak-ledak. Selain itu aku juga punya teman cewek dengan gaya khasnya yang agak maco. Hobinya adalah mengoleksi berbagai macam pernak pernik anime,saat ini ia sedang menggeluti dunia bisnis bertemakan anime. Lalu ada cowok berbadan gendut,yang satu ini jangan di contoh. Hobi nya telat,lalu tidur di dalam kelas. Paling tidak mau tahu tentang tugas. Hal yang paling menyengsarakan adalah ketika satu kelompok dengannya. Itulah dinamika dalam kelas ku yang membuat semuanya menjadi indah dan berwarna. Perbedaan itu suatu hari nanti pasti akan menorehkan kenangan dan kerinduan tersendiri di relung hati ini.
            Teman,inilah yang membuat aku mulai meragukan kecantikan yang selama ini bebas terlihat oleh siapa saja. peristiwa inilah yang telah meluluhkan hatiku yang keras seperti batu bara. Saat itu,tepat ketika dosen meninggalkan ruang kelas. Doni,teman sekelas ku yang selalu menorehkan kekesalan di hatiku. Dia datang mengahampiri ku dengan tatapan dingin seorang pembunuh. Aku sama sekali tidak memperdulikannya.
            “ Kirana…”
            Suaranya mulai menghampiri telingaku. Aku tetap diam,menolehpun aku tidak berminat apalagi menjawab.
            “ Kirana…”
            Suara itu mulai terdengan jelas,dia pasti meninggikan volume suaranya agar terdengar oleh ku, dia pikir aku budek apa! Dengan raut muka tak bersahabat aku menoleh,membalas tatapan tajam matanya. Lewat tatapan mata ku pasti dia tahu kalau aku sedang bertanya dalam diam. Apa keperluannya?
            “ Tidak seharusnya kamu memasang foto seperti ini di facebook!”
            Benarkan dugaan ku,dia pasti mau membahas jilbab lagi di depan ku. Aku sudah muak mendengar khotbahnya yang tidak penting itu. Semua bersumber dari akun facebook ku yang selalu memasang foto dengan busana terbuka. Aku senang sekali memposting berbagai macam foto di dunia maya,tentunya tanpa jilbab. Aku langsung menyambar tas hendak berlalu dari hadapannya.
            “ Kiran,kamu itu seorang muslimah,cantik! Tidak seharusnya kamu membiarkan orang yang bukan mukhrim mu melihat keindahan tubuh mu! Memperlihatkan aurat secara sengaja itu dosa Kiran…”
            Doni terus berkata dengan suaranya yang lantang itu. Aku terpaksa mengehentikan langkah tepat di depan pintu kelas. Aku berbalik. Menatap tajam kearahnya. Cowok ini benar-benar memuakkan. Aku ingin sekali membuangkam mulut nya yang sok tahu itu. Tunggu, mungkin kalau pita suaranya di iris lebih baik,dia pasti  tidak akan membisingkan telingaku lagi.
            “ Kamu tidak berhak mengatur hidupku! Memangnya siapa kamu?” balas ku sambil menunjuk kearah mukanya.
            “ Sudah jadi kewajiban ku mengingatkan mu Kiran!”
            “ Stop!!! Aku tidak butuh!”
            “ Kiran,kamu muslimah,sudah dewasa pula. Kalau kamu tetap seperti ini,kasihan orangtua mu. Mereka akan menanggung akibatnya!”
            Kesabaran ku benar-benar sudah habis. Apa maunya cowok ini. Apa hak nya selalu menceramahi ku. Kalau dia tidak mau melihat foto-foto yang aku pasang tinggal hapus saja pertemanan itu,gampang kan? Dan sekarang dia membawa nama orangtua ku. Sebentar lagi dia pasti akan bilang kalau orangtua ku tidak berhasil mendidik anak!
            “ Heh,kamu pikir hati manusia bisa diukur dengan jilbab? Kamu yakin semua wanita yang berjilbab itu baik? Tidak lagi melakukan dosa? Pasti masuk surga? Dengar ya baik-baik. Kamu boleh menceramahi ku kalau sudah tidak ada lagi wanita berjilbab yang berbuat dosa. Mending kamu khotbah di Taman Sari atau di parkiran Amplaz,kemarin aku lihat wanita berjilbab sedang ciuman di sana!”
            Puas! Puas sekali rasanya membeberkan keburukan wanita berjilbab namun masih suka melakukan hal-hal menjijikan di depan umum. Puas sekali melihat Doni kehabisan kata-kata. Aku tersenyum,senyum kemenangan! Ku balikkan badan, dengan bangganya meninggalkan Doni yang terpaku,termakan omongannya sendiri. Namun ternyata dugaan ku salah. Suara lembut di barisan kursi paling belakang menyapa ku dengan kalimat Allah. Kenapa aku tidak sadar kalau ada orang selain aku dan Doni? Ahh,bodoh sekali!
            “ Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya,yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal,karena itu mereka tidak mudah di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
            Ku urungkan niat untuk segera pergi,entah mengapa pemilik suara lembut itu seketika menyihir hati ku. kalimat yang baru saja dia ucapkan sangat menarik perhatian ku. belum sempat aku menoleh,pemilik suara itu sudah berada di belakang ku,menyentuh lembut bahu ku dengan jemarinya yang indah. Aku menatap nya. Hitam manis,tidak cantik,tidak tinggi,namun wajahnya bersinar. Dari mana asal sinar itu? Apakah dia perawatan wajah di salon yang elite? Aku akan bertanya nanti.
            “Avi…”
            Aku langsung menyambut uluran tangannya.
            “ Senang berkenalan dengan mu Kiran. Sebelumnya maafkan aku karena telah lancang mencampuri urusan mu dengan Doni!” katanya sambil melirik kearah Doni yang masih diam terpaku.
            Aku hanya mengangguk. Mata ku terus memperhatikan Avi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia hanya gadis biasa,tapi mengapa saat menatap matanya ada sesuatu yang menarik. Matanya memancarkan kecantikan,kebaikan,kelembutan,dan kedamaian. Berbeda sekali dengan Doni yang terlihat menyeramkan,matanya tidak menawarkan persahabatan melainkan permusuhan. Aku benci Doni!
            “ Saudara ku,jilbab adalah kewajiban setiap wanita muslim yang sudah akil baligh. Menutup aurat adalah amalan dan mengumbarnya merupakan dosa. Apa yang kamu katakan memang benar,tidak semua wanita berjilbab baik akhlaknya. Namun ketahuilah Kiran,jilbab dan akhlak itu dua hal yang berbeda. Jilbab kewajiban dan akhlak itu sifat dalam diri manusia. Jilbab bisa memperbaiki akhlak seseorang,namun bagi wanita yang belum bisa memperbaiki akhlak nya padahal ia sudah mengenakan jilbab,dia hanya butuh waktu saja. Seorang yang memiliki akhlah baik dan hati mulia pasti mengenakan jilbab untuk menambah ketakwaannya kepada Allah.”
            Aku terdiam,mendengarkan dengan khidmat setiap kata yang meluncur dari bibir Avi. Aneh,tidak ada niat menyanggah ucapannya. Tidak ada perasaan marah. Bahakan aku mulai meragukan akhlak ku sendiri. Benarkan aku sudah menjalankan kewajibanku? Bahkan untuk sholat lima waktupun masih sering ku tinggalkan. Aku sedikit kecewa saat Avi pamit,hati ku ingin menahannya dan mengajaknya berbincang lebih lama. Namun Avi harus segera pergi. Doni pun melangkah keluar,meninggalakan aku yang terpaku sendiri. Memikirkan kalimat-kalimat yang tadi ku dengar. Memandangi diriku dari dalam. Inikah yang selama ini aku banggakan? Baju seksi tanpa lengan dan celana pendek diatas lutut? Akankah aku pertahankan?
            Setiap hari aku selalu memperhatikan Avi. Sejak kejadian itu aku tidak pernah berbincang-bincang dengan Avi. Jika kami bertemu hanya senyuman yang berbicara. Diam-diam aku selalu mengamati Avi. Aku mengamati pakaiannya yang selalu rapi. Dia tidak pernah memakai jeans ketat ataupun baju kaos. Rok panjang longgar dan baju kemeja selalu berhasil membuat dirinya terlihat dewasa dan berwibawa. Cara bergaul nya pun tidak bebas,dia tidak pernah menjabat tangan laki-laki. Terkadang aku senyum sendiri melihatnya. Mungkin kalau aku laki-laki,aku pasti sudah jatuh cinta pada Avi.
            Selain belajar dari mengamati keseharian Avi,aku juga banyak mendengarkan nasehat dosen. Dosen di kampus ku selalu menyisipkan pesan spiritual di sela-sela pembelajaran. Dari situlah peperangan mulai terjadi dalam diri ku. Batin ku menolak ketika terlintas niat untuk mengenakan jilbab. Aku tidak tahu apakah semua wanita mengalaminya. Namun bagi ku,pribadi yang dibesarkan tanpa mengenal jilbab lebih dalam sungguh sangat sulit rasanya. Godaan baju tanpa lengan dan celana di atas lutut merupakan cobaan yang besar. Satu yang kini harus aku syukuri,setiap pagi aku harus mengenakan jilbab saat pergi kuliah. Dari situlah aku belajar membiasakan diri. Untuk melatih kebiasaan baru ini,aku betah menghabiskan waktu di kampus sampai sore. Saat jam kuliah habis maka aku akan pergi ke perpustakaan. Semua aku lakukan agar tidak ada kesempatan untuk membuka jilbab karena masih berada di lingkungan kampus. Allah,terima kasih telah memberikan hidayah Mu lewat Avi. Inilah perubahan hidup yang ku dapat dari kampus orange. Kampus yang mengusung nama Kyai legendaris. Ahmad Dahlan.